Kuliah. Apa itu?
Menimba ilmu? Mencari gelar? Tameng kegengsian? Atau terpaksa karena disuruh orang tua?
Itu alasan klasik dari beberapa orang yang berkuliah. Sebagian orang berpendapat seperti ini, "Iya gue bersyukur bisa kuliah meskipun bukan di Universitas ternama, gue bisa dapat ilmu, gue ngga perlu ngeluarin banyak uang karena gue memilih Universitas yang biayanya terjangkau." Dan pendapat lain juga pernah gue dengar seperti ini,"Gue yang penting kuliah, mau belajar atau ngga belajar yang penting nanti gue dapat gelar."
Di dua hari itu, gue ngobrol dengan beberapa Mahasiswa Universitas gue yang sedang menghadapi ujian, dari obrolan-obrolan itu gue menangkap beberapa poin yang gue pingin share, bukan maksud jahat untuk berpendapat di belakang mereka, cuma mungkin ini bisa dijadikan pelajaran bagi semua orang (at least kalau loe baca tulisan ini di blog gue dan loe nangkap apa maksudnya).
Okay, di hari pertama, gue bertemu dengan salah satu Mahasiswa tingkat 2 Jurusan Perpustakaan, kita random sih kenalnya. Dari obrolan dengan dia, gue dengar bahwa dia ini adalah salah satu pegawai Perpustakaan yang sedang mengejar gelar S1 Perpustakaan. Tujuan dia kuliah di Universitas ini dan mengambil jurusan tersebut adalah supaya dia bisa naik jabatan untuk sebuah jabatan di tempat kerjanya, which is di Perpustakaan itu. Dia sempat share ke gue, apa passion dia sebenarnya, apa yang sebenarnya dia kehendaki untuk pencapaiannya dari dulu. Bapaknya itu Guru, itu inspirasinya juga untuk mengejar profesi Guru sebelumnya, sebelum dia bekerja di Perpustakaan. Terlepas dari saudara dan kakak-kakaknya yang juga berprofesi Guru. Terus gue tanya, kenapa dia mau ambil jurusan Perpustakaan, yang notabene bertolak belakang dengan jurusan Keguruan. Alasannya sih simple, dia mau menekuni apa yang sudah dia jalani selama ini, yaitu sebagai Pegawai Perpustakaan. Dia ngga ngejar passionnya (menjadi Guru).
Gue percaya segala sesuatunya itu terkadang ngga ngebutuhin passion, but as long as you believe about your passion, you can't let it down. Gue banyak melihat beberapa orang waktu awal kuliah milih jurusan yang sedang banyak dicari oleh Perusahaan, tapi mereka enjoy aja menjalani itu semua (as they believe that it was their passion) mungkin seperti, let the flow. Itu bagi mereka yang mungkin lebih realistis dan berpikir apa yang baik untuk kehidupan mereka. Mungkin saja itu memang passion mereka atau mereka berpikir kedepan dan sedikit meninggalkan passion mereka untuk sementara.
Tapi ada juga orang yang berambisi dengan passionnya. Contohnya gini, dia kuliah dengan mengambil jurusan yang kalau kebanyakan orang bilang, "jurusan yang susah lapangan kerjanya". Saking berambisinya dia, dia ngga peduli dan berpikir bahwa uang bukan segalanya.
Gini lho ya, kebanyakan orang tuh berpikir begini, loe kuliah itu untuk BERKARIER. Loe punya gelar, Sarjana, Master, Doktor ya ujung-ujungnya untuk karier. Tapi gue percaya, some of them have the same thoughts that education is for kowledge, how you control your mindset, how you arrange "the puzzle", and how you to share (all the things), not just about carrier and making some money.
Balik lagi ke Mahasiswa Perpustakaan tingkat 2 ini, gue berpikir positif sih sama dia, dia realistis.
Another case that I found that, dia ini Mahasiswa tingkat akhir, dan kebetulan gue sama dia satu semester, surprised me. Kita ngobrol beberapa hal soal perkuliahan, dan memulainya dari nilai. Gue teramat terkejut saat dia cerita bahwa dari semester awal sampai semester akhir ini, dia ngga pernah tahu nilai-nilainya. Dari yang gue tangkap, dia seolah masa bodo dengan hal itu. Belajar? Ya sekedarnya. Kenapa gue bisa bilang begitu? Dari awal mungkin bisa dibilang, dia salah ambil jurusan (gue yakin ini bukan alasan yang utama untuk loe ngga serius kuliah, which is loe bisa pindah jurusan di awal-awal perkuliahan loe kalau loe memang ngga mau, tapi loe yang ini, masa bodo) ya setelahnya dia menjalaninya seperti setengah hati. Jadi gini, di Universitas gue ini itu mayoritas Mahasiswanya kuliah sembari kerja, as you know, ini alasan dia yang kedua, parah, ngga masuk akal dua-duanya. Gue ngga pernah menyalahkan sistem pembelajaran di Universita gue yang teramat menganjurkan Mahasiswanya untuk aktif dalam belajar, loe kuliah sembari kerja bukan jadi alasan loe untuk give up dan masa bodo dengan kuliah loe. Loe udah memilih Universitas ini, ya loe harus bisa jalani sistemnya juga. Loe kuliah tuh ngga hanya bawa diri loe, tapi loe juga mengeluarkan biaya, waktu, tenaga, otak, dan loe masa bodo begitu. Gue hanya berpikir seperti ini, seberapa besar atau kecil nya uang yang loe keluarkan untuk kuliah, loe ngga bisa gitu main-main, yang loe hadir aktif hanya saat UAS, tapi loe ngga pernah aktif dengan belajar loe, loe sama aja ngga bersyukur, loe sama aja ngga berpikir bahwa masih banyak orang lain yang ngga seberuntung loe, yang ngga bisa menikmati kehidupan seperti yang loe punya, meskipun loe berkerja, kuliah, tapi itu kan nikmat, nikmat bukan berarti uang ya atau hal-hal precious lainnya. Sorry to say, gue males kenal orang seperti ini.
Ya, gue memang bukan Mahasiswa teladan, cerdas, pandai, yang semua nilainya bagus-bagus, tapi Alhamdulillah sampai detik ini gue selalu bersyukur, pun mengenai perkuliahan. Emang sih ini terkesan gue koret banget, tapi gue pikir ini sebagai mental student, gue selalu berpikir bahwa di tiap semester perkuliahan gue, minimal gue ngga ada nilai C, D, atau E, gue menargetkan minimal C, gue harus lulus semua mata kuliah, ngga cuma itu, gue juga harus aktif belajar, belajar, dan belajar. Karena gue berpikir percuma ya kalau loe menyia-nyiakan rezeki yang ada di hadapan loe dan tidak memaksimalkannya. Gue selalu menghitung biaya yang harus gue keluarkan di tiap semesternya, entah itu untuk SPP, buku, sama buku penunjang lainnya (yang berhubungan dengan perkuliahan), dan gue juga menghitung tingkat keberhasilan gue di tiap semesternya, gue ngga mau rugi dengan gue mempersembahkan ke orang tua gue nilai yang jelek, jadi dengan biaya yang gue keluarkan, gue harus memaksimalkannya dengan nilai bagus, jadi:
BIAYA=NILAI BAGUS
Gue berpikir begini, di Universitas gue ini, nilai adalah prioritas, hal yang paling utama untuk loe bisa cepat lulus, jadi akan teramat disayangkan banget kalau loe menyia-nyiakan waktu loe untuk ngga belajar, belajar itu kan cari ilmu, ilmu kan pahala, terlebih kalau loe bisa membaginya dengan hal positif, kan jadi makin nambah pahala.
Jadi, saran gue melakukan segala sesuatunya itu yang serius, jangan main-main, emang sih hidup jangan flat, serius terus, tapi ada saat dimana loe harus bisa memilah saatnya serius dan main-main.
Cheers.
Comments
Post a Comment