Dia Datang Kejutkanku
Dia Datang Kejutkanku!
Sore itu awan nampak kelabu pertanda
akan hujan, suara gemuruh dari langit mulai terdengar menggelegar. Angin
meniupkan desahan-desahan kasar berliuk-liuk bagaikan penari mengiringi
orang-orang yang mulai sibuk berteduh untuk menghindari air hujan yang siap
mengguyur Jakarta di kala macetnya sore itu.
Seorang gadis bertubuh kurus tinggi
dengan mengenakan blus bunga-bunga berlengan pendek longgarnya dengan rok satin
panjangnya di padukan dengan sepatu ketsnya berlari-lari kecil menghindari
gerimis yang mulai berubah menjadi air bah dari langit yang jatuh menimpa tubuh
kurusnya. Dia berlari menuju Halte Bus yang tak jauh dari Kampus dia belajar. Hujan
yang lebat itu pun tak mampu menghentikan kemacetan Jakarta yang setiap hari menjadi
rutinitas yang paling menjengkelkan bagi warga Jakarta. Karena hampir setiap
hari bergelut dengan macet dan waktu yang terus mengejar tiada henti di setiap
harinya.
Gadis itu duduk di bangku Halte dan
menaruh tasnya di pangkuan sambil sesekali dia menyeka air hujan di wajahnya
yang manis itu dengan hidung kecil bangir melengkapi.
Namanya Sandi, Mahasiswi fakultas Ekonomi semester 5 di salah satu Universitas Swasta Jakarta. Rambutnya yang hitam sebahu pun tak lepas dari siraman air hujan sore kala itu. Namun air hujan yang membasahi wajahnya tak dapat menghapus pesona wajah manisnya yang nampak alami. Puluhan kendaraan yang berjejal di depan matanya pun menjadi suguhan tontonan yang hampir setiap hari berjibaku di depan matanya yang sayu. Suara klakson bergema di setiap penjuru jalan raya itu, nampaknya setiap orang menjadi tampak terburu-buru di kala macet apalagi di saat hujan turun yang membuat jalanan aspal menjadi licin, yang membuat para pengemudi harus ekstra berhati-hati di tengah guyuran air hujan yang semakin derasnya.
Namanya Sandi, Mahasiswi fakultas Ekonomi semester 5 di salah satu Universitas Swasta Jakarta. Rambutnya yang hitam sebahu pun tak lepas dari siraman air hujan sore kala itu. Namun air hujan yang membasahi wajahnya tak dapat menghapus pesona wajah manisnya yang nampak alami. Puluhan kendaraan yang berjejal di depan matanya pun menjadi suguhan tontonan yang hampir setiap hari berjibaku di depan matanya yang sayu. Suara klakson bergema di setiap penjuru jalan raya itu, nampaknya setiap orang menjadi tampak terburu-buru di kala macet apalagi di saat hujan turun yang membuat jalanan aspal menjadi licin, yang membuat para pengemudi harus ekstra berhati-hati di tengah guyuran air hujan yang semakin derasnya.
***
“Wajah
mereka terlihat lucu di kala sedang gusar seperti itu.”ucap sosok laki-laki di
samping Sandi yang tampak mengenakan jaket putih dengan celana jeans biru
donkernya di padukan dengan tas selempang putihnya
Sandi
tak memperdulikan ucapan laki-laki itu, dia hanya menatapnya sebentar lalu
pandangannya menghambur ke arah atas langit yang menjatuhkan air hujan dengan
semangatnya. Tapi sejak kapan laki-laki itu duduk di samping Sandi? Apakah
memang Sandi yang tak terlalu memperhatikan sekitar yang memang ramai dengan
orang lalu lalang untuk menghindari hujan?
“Terkadang
ku di buat heran dengan hujan. Tidakkah itu begitu indah di kala ada air turun
dari langit? Membuat tanah yang gersang menjadi tanah yang subur dan membuatnya
lembab yang menimbulkan aroma khas sedap dari alam, yang membuat suasana panas
menjadi lebih dingin terkadang juga membuat hangat. Namun di saat itu juga
terkadang kehadirannya tak di ingini untuk setiap orang, mereka berujar hujan
merupakan mala petaka yang membuat bencana bah bagi mereka.”ucap lelaki itu
lagi sambil memandang ke arah Sandi yang duduk terdiam di sampingnya, dan
seketika Sandi membalas pandangan lelaki itu walaupun hanya sesaat. Karena
nampaknya Sandi tak memperdulikan ucapan lelaki itu yang menurutnya dia adalah
lelaki yang aneh. Dan untuk apa juga memperdulikan orang yang tak di kenal,
pikir Sandi saat itu.
“Aku suka hujan yang tenang, bukan yang penuh
dengan gemuruh. Gemuruh, bukankah itu mencengkam? Yang bisa membuat suasana bak
neraka nyata di dunia, yang bisa membuat orang menjerit dengan suaranya yang
maha keras. Itu sungguh menyeramkan!”lanjut lelaki itu sambil menatap lelaki
bertubuh tambun yang mengendarai Truk besar berteriak-teriak sembari
membunyikan klakson dengan kerasnya, itulah salah satu contoh kondisi orang
jika sedang gusar dalam menghadapi macetnya kota Jakarta yang bak hutan
belantara
Sandi hanya mengkerutkan kening
sambil menatap lelaki itu dari sudut wajahnya lalu membuang pandangan di
sekitarnya yang dirinya baru menyadari ternyata halte itu di sesaki oleh orang
banyak . Sambil melirik arloji berwarna perak di tangan kanannya, dalam hatinya
bergumam, “Jam keluar Kantor, Bus gue
pasti full ini, harus ekstra cepet.”
Jika
Ibunya tak meminta Sandi untuk segera pulang untuk membantu pesanan kue kering
yang memang sedang over order, dia
memilih lebih baik untuk tetap di Kampus sekedar untuk berteduh daripada harus
menungu di halte yang sesak ini dan di temani lelaki aneh yang terus menerus
berujar tentang hujan.
***
Bus yang di tunggu-tunggu Sandi pun
akhirnya muncul di hadapannya, namun saat dia beranjak dari duduknya tiba-tiba
dia tersandung batu dan jatuh tersungkur. “Oouch!” Sontak Bus yang sedari tadi
di tunggunya, sudah di sesaki penumpang yang berjubel. Dengan kesalnya dia
bangun dan menendang batu yang membuat dirinya jatuh tersungkur.
Lelaki
aneh yang berujar tentang hujan itupun hanya tertawa terkekeh-kekeh melihat
tingkah Sandi, dan sontak Sandi langsung memandang lelaki itu dengan ekspresi
ketusnya dan beranjak duduk di tempatnya lagi.
“Tunggu
bus rute ke 2, pasti ada tempat buat kamu.”ucap lelaki itu lembut sambil
menyunggingkan senyuman manis
Entah
kenapa seolah ada sihir yang mengenainya, Sandi langsung terpikat dengan
senyuman manis lelaki itu. Sandi hanya terus menatapnya dengan pandangan kagum,
namun seketika dia tersadar dengan tatapan lelaki itu yang kelihatannya
menyadari pandangan kagum Sandi terhadapnya. Dengan menghilangkan rasa malunya,
Sandi membuang pandangannya dari lelaki itu lalu menghela nafas panjang.
“Kenalin,
aku Tio.”ucap lelaki itu sambil menyodorkan tangan kanannya di hadapan Sandi
“Sandi.”balasnya
sambil menjabat tangan Tio lalu dengan terburu-buru segera melepasnya, entah
mengapa seakan ada dorongan, Sandi untuk menjabat tangan kanan Tio
“Aku
mahasiswa Fakultas Sastra Indonesia semester 6 dan kita satu Universitas”kata
Tio pasti
Sandi
hanya mengangguk pelan sambil memandang lurus ke depan.
“Aku
tahu kamu, gadis yang selalu terburu-buru seolah-olah waktu terus mengejar.”ucap
Tio lagi dengan memamerkan senyuman manisnya
“Maksud
kamu?”tanya Sandi sambil mengkerutkan keningnya dan seketika memandang Tio
Tio
hanya tersenyum pada Sandi, dan tentunya itu senyuman yang manis yang sedari tadi
di sunggingkannya
“Kamu
itu spy?”tanya Sandi lagi sambil memandang
heran ke arah Tio
“Yes, i’m your spy!”jawab Tio sambil
tetap tersenyum dengan senyuman manisnya
Sandi
melototkan kedua matanya lalu tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya
dengan erat. Tanpa memperdulikan Tio yang menatapnya dengan pandangan heran.
“Kamu
tuh lucu deh! Emangnya aku itu penjahat kelas kakap yang musti di mata-matain?”ujar
Sandi dengan ekspresi wajah menahan tawa
Tio
hanya mendengus pelan lalu membuang pandangannya ke arah depan dengan senyuman
manisnya tanpa menatap Sandi.
“Aku
memang mata-mata mu, yang selalu mengintaimu. Yang selalu ingin melihat pesona
wajah manismu walaupun di jarak yang jauh.”ucap Tio tanpa melepas senyuman
manisnya, dan Sandi hanya menatap Tio dengan pandangan heran melalui sudut
wajahnya yang tampan, kali ini Sandi berhenti tertawa dan memasang wajah
seriusnya menundukkan wajahnya, dan menatap Tio lagi yang Tio terus menatap
lurus ke depan tanpa menoleh sedikit pun ke arah Sandi dan ternyata Sandi baru
menyadari, bahwa lelaki yang sedari tadi di sampingnya adalah lelaki bak
malaikat dengan senyuman manis menawan.
“Dia sungguh tampan.”batin
Sandi kala itu tanpa melepas pandangan kagumnya dari Tio
“Ya,
aku selalu memperhatikanmu, kamu adalah inspirasi terbesarku.”ucap Tio tanpa
menatap Sandi, pandanganya lurus ke depan, yang hanya Sandi terus menatap Tio
dengan pandangan kagumnya, namun seketika Tio balik menatapnya dan Sandi
langsung terkaget. Secepat kilat dia membuang pandangannya ke depan.
“Ngghh,
kamu kurang kerjaan!”ucap Sandi seketika dengan ekspresi wajah yang di buatnya
sok serius dan kali ini dia betul-betul gugup
Tio
hanya tersenyum dan tentunya itu adalah senyuman manisnya sambil menatap Sandi
dari sudut wajah gadis manis itu.
“Dengan
menatap wajah manismu aku berharap kan ada cahaya yang menyinari setiap
langkahku yang gelap, kamu gadis yang mempunyai wajah manis yang membuatku
terpikat akan pesonamu. Dengan hanya menatap wajah manismu membuatku bahagia
seakan hidupku manis tanpa ada kepahitan yang menyertaiku. Maukah kamu selalu
menjadi inspirasiku?”ucapan Tio itu membuat Sandi kaku tak dapat berucap,
karena dia tak menyangka ada seorang lelaki rupawan yang memiliki senyuman
manis, yang membuatnya seakan melambung tinggi dengan ucapannya yang bak
pujangga, mengaguminya! Tidakkah ini hanya sebuah lelucon saja? pikir Sandi
setelah beberapa saat hanya terdiam.
“Aku
menyukaimu, tidak hanya wajah manismu. Namun semua yang ada pada dirimu, aku
sungguh suka. Kamu bagaikan bidadari yang selama ini aku tunggu yang Tuhan
mengirimkannya di bumi. Bidadari dengan bingkai wajah manisnya, tingkah lakunya
yang selalu membuatku berdecak kagum dan jiwa kewanitaanmu yang selalu
terpancar. Aku sungguh menyukaimu.”ucap Tio dengan suara lembutnya
Sandi
hanya bisa terdiam mendengar ucapan Tio, dia mencoba untuk menatap lelaki itu.
“Aku
ingat saat diam-diam mengintaimu, kamu membantu anak kecil yang tersesat untuk
menemukan jalan pulangnya. Padahal kamu tak mengenalnya, dan bisa saja hal buruk
menimpamu di saat kamu menolongnya. Namun, justru aku melihat malaikat putih
yang menolong anak kecil itu, malaikat tanpa sayap yang mempunyai wajah manis
dengan tulus menolong tanpa mengharapkan imbalan apapun. Aku sungguh takjub di
buatnya, di zaman orang yang seakan tak peduli satu sama lain malah justru aku
menemui seseorang seperti kamu yang mempunyai budi pekerti yang baik. Wajah
manismu sebanding dengan ketulusan hatimu yang juga manis. Itu serasa sempurna
untuk gadis sepertimu.”ujarnya lagi panjang lebar, dan Sandi hanya bisa diam
tak berucap. Dirinya tak menyangka ada sesorang yang diam-diam mengamatinya dan
ternyata dia adalah penggemarnya. Serasa tak cukup baik dia tuk di kagumi.
“Mungkinkah aku
mengenal lelaki ini?”dalam hati Sandi
bertanya
Sandi
hanya terus menatap Tio dengan pandangan sayunya, yang membuat wajah manisnya
seakan terpancar dengan anggunnya.
“Apakah
aku mengenalmu?”tanya Sandi tanpa melepas pandangannya kepada Tio
“Tidak,
kamu tidak mengenalku. Aku hanyalah penggemarmu yang selalu menanti mu di sudut
perpustakaan Kampus, yang hanya sekedar untuk melihat wajah manismu, walaupun
aku harus menunggumu lama hingga aku seperti penguntit bagimu.”jawab Tio
menatap Sandi lekat-lekat, wajah rupawannya sungguh membuat Sandi seakan
tersihir dengan pesonanya
“Aku
sungguh tak mengerti, mengapa ada seseorang sepertimu yang mengagumiku, gadis
biasa yang tak istimewa.”balas Sandi dengan ekspresi wajah penuh dengan rasa
penasaran
Tio
menghela nafas pendek dan menundukkan kepalanya, lalu menatap Sandi lagi. Kali
ini jarak wajah mereka berdua tak lebih dari tiga jengkal.
“Tidak
pernahkah kamu melihat wujudmu di cermin? Kamu adalah makhluk termanis yang
pernah aku temui seumur hidup. Kamu membuatku seakan takjub dengan pesona
manismu, tidak hanya itu. Selama ini aku menguntitmu, baru ku tahu bahwa kamu
menyukai sastra yang justru membuatku terpikat padamu, dan sejak tiga bulan
lalu aku telah menganggap diriku sebagai penggemarmu yang akan terus mengagumimu.”ucap
Tio panjang lebar dengan menatap dalam kedua mata sayu Sandi
Tanpa mereka berdua sadari, ternyata
Halte Bus yang sedari tadi padat telah sepi. Hanya mereka berdua lah yang di
situ, di temani dengan pedagang asongan yang sibuk menghitung uang hasil
jualannya, duduk di bangku sudut Halte.
Seketika
itu juga datang bus yang sedari tadi di tunggu Sandi. Dengan kagetnya karena
mendengar klakson bus, Sandi segera melayangkan pandangannya ke depan dan
beranjak dari duduknya ketika menyadari hari sudah gelap, hujan pun sudah reda
dan Adzan Maghrib telah di kumandangkan.
“Sandi,
besok aku akan menunggumu di Halte ini. Jika kamu tidak datang, aku akan
berhenti mengagumimu, menjadi penggemarmu dan akan menguburmu di relung hatiku.
Aku akan terus menunggumu sampai kamu datang.”ucap Tio beranjak dari duduknya
dan Sandi hanya terdiam dan melangkahkan kakinya tanpa mengucap sepatah katapun
kepada Tio dan segera menaiki bus yang sedari tadi di tunggunya. Dalam jendela
kaca bus, Sandi melihat Tio sedang berdiri menatapnya dari kejauhan, tatapan
lelaki yang membuatnya tersihir di Halte Bus itu dan dia membuang pandangannya
ke Handphone yang sedari tadi dia
taruh di dalam tas. Ternyata banyak sekali misscall
dan SMS dari Ibunya, ternyata beliau
telah di bantu tante Ani untuk menyelesaikan pesanan kue keringnya yang sedang banyak-banyaknya,
dan menyuruh Sandi agar tak usah terburu-buru untuk pulang.
Dalam waktu sekejap saja lelaki
bernama Tio itu sungguh membuatnya bingung. Sekali lagi dia tak mempercayai ada
seseorang seperti Tio yang mengaguminya bahkan selalu mengamatinya dari jauh.
Namun dengan pesona wajahnya yang rupawan dan tutur katanya yang seakan membuat
Sandi tersihir, dia pun tak dapat menolak kehadiran Tio yang bak kejutan di
hatinya. Sekali lagi Sandi di buatnya begitu bingung. Haruskah dia datang ke
Halte Bus itu lagi? Mungkinkah Tio benar-benar menunggunya? Apakah Tio hanya
sekedar khayalan Sandi saja? Ataukah dia memang lelaki yang kurang kerjaan
saja? Seribu pertanyaan tentang Tio menghantui hati Sandi di kala sepinya bus
yang dia tumpangi.
***
Entah mengapa hari itu begitu cepat
berlalu, jam-jam kuliah pun terasa begitu cepat berlalu. Dalam kebimbangan yang
mendalam, Sandi duduk di Perpustakaan Kampus untuk sekedar membaca beberapa
buku sastra. Namun seketika dia ingat perkataan Tio kemarin sore yang selalu
menunggunya di Perpustakaan Kampus, refleks kedua mata sayu Sandi mencari sosok
lelaki itu, namun dia tidak menemukan sosok Tio dalam keheningan Perpustakaan.
Entah mengapa Tio membuat harinya begitu mendebarkan, seakan Tio telah
melayangkan sejuta mantra untuknya. Mantra yang berfungsi membuat Sandi seakan
terpesona olehnya, bukan hanya dengan wajahnya yang rupawan, melainkan
kata-katanya yang membuat Sandi kaku tuk membalasnya. Dan dalam sekejap saja
Tio dapat melumpuhkannya hanya dalam hitungan jam saja. Dan tidak tahu apakah
dia akan datang menemui Tio di Halte Bus. Karena menurut Sandi ini seperti
mimpi, mimpi yang benar-benar membuatnya seakan mendapatkan kejutan. Membaca
beberapa buku sastra di perpustakaan pun tak dapat mengusir pikirannya tentang
Tio yang mengejutkan hari-harinya kemarin bahkan efeknya terasa hingga hari
ini. Dengan membaca beberapa buku sastra dia berharap dapat membunuh waktu
sampai jam menunjukkan pukul lima sore, membuat keputusan akan kedatangannya ke
Halte Bus atau tidak.
***
Semilir angin sore itu begitu manja,
meliuk-liukan dedaunan hijau yang rimbun di atas pepohonan di pinggiran jalan
raya itu. Suasana sore itu begitu hangat, tidak seperti kemarin yang di guyur
dengan air bah hujan dengan petir bergetar di segala penjuru. Sesosok lelaki
berpostur kurus tinggi duduk sendiri di Halte Bus, pandangannya lurus tertuju
ke Kampus fakultas Ekonomi di seberang jalan. Dengan mengenakan t-shirt hijau polos pendek, celana jeans panjang hitamnya dan tas selempang
putihnya yang di taruh di pangkuannnya, dia nampak rupawan dengan pancaran
sinar wajahnya yang bak malaikat dengan pesona indahnya. Mata elangnya lurus
memandang ke Kampus itu dan sesekali dia melirik jam tangan hitamnya di
pergelangan tangan kirinya. Tepat pukul 5, dan dia menunggu Sandi. Gadis yang
di kaguminya melebihi apapun dengan milyaran gadis di dunia ini, karena dia
telah terpesona dengan keanggunan wajah manis sang gadis Mahasiswi fakultas
Ekonomi tersebut.
***
Gadis dengan bingkai wajah manisnya
sedang duduk di bangku Perpustakaan, dia tak menyadari sudah lebih dari 3 jam
dia menduduki kursi itu. Mungkin kursi itu sudah panas sebanding dengan panasnya
Jakarta. Melamunkan sesuatu, bahkan onggokan buku di depan matanya hanya
sekedar pajangan tak di bacanya satu pun. Dia hanya membalik-balikkan halaman
demi halaman seolah-olah buku itu hanya mainannya. Dan dia melakukannnya terus
hingga dia mendapatkan keputusan yang tepat untuk sosok lelaki yang menunggunya
di Halte Bus, ataukah lelaki itu telah lelah menunggunya dan beranjak pulang
merenggangkan otot-otot kakinya yang kram karena menunggu sang gadis yang tak
kunjung datang?
***
Tepat pukul 6 sore, sudah satu jam
Tio menunggu Sandi di Halte Bus itu. Rasa sesal memuncaki relung hatinya yang
kering bagaikan padang pasir tandus. Dia berharap gadis itu datang untuk
sekedar menyejukkan hatinya yang kering dengan siraman air nirwana darinya. Ah,
khayalannya terlalu tinggi, yang pada kenyataannya sekarang dia hanya sendiri
di Halte itu menunggu Sandi yang jelas-jelas tak datang. Mungkin dia sudah
berbaring di atas ranjangnya yang empuk dan hangat dan melupakannya untuk
selamanya sebagai pengemarnya yang bodoh. Pikiran buruk itu terus menghantui
otaknya.
Dan dengan perasaan seperti kalah
dalam peperangan, dia beranjak dari duduknya. Dia tak akan mengharapkan gadis
yang bernama Sandi itu untuk datang menemui lelaki konyol sepertinya. Bukankah
itu hanya membuang-buang waktunya saja? Waktu Sandi yang berharga telah habis
untuk mendengarkan ucapan-ucapan tak pentingnya kemarin sore. Kesedihan telah
merajamnya hingga menusuki tulang, sumpah demi apapun Sandi tak akan datang!
***
“Hey!”sebuah
suara yang tak asing bagi Tio yang membuatnya kaget saat beranjak dari duduknya
“Mau
kemana?”
“Aku
buat secret admirerku menunggu lama ya?”tanya Sandi beranjak menghampiri Tio
yang kaget dengan kedatangan Sandi yang mengejutkannya
Seketika
Tio berjalan pelan menghampiri gadis manis itu dengan bingkai senyum manis yang
dia bahkan lupa akan kekesalan hatinya yang menunggu Sandi seari sejam lalu
“Tiada
kelelahan bagiku untuk menunggu sang gadis manis yang telah meruntuhkan seluruh
bangunan isi hatiku. Aku akan menunggunya hingga dia kan terbangkanku ke atas
sana mengapit buih-buih awan putih dan merangkainya menjadi sajak sempurna yang
akan ku dengungkan padamu selamanya, seumur hidup. Tak akan ku memuja selain
dirimu oh gadis manisku.”ucap Tio panjang lebar dengan senyuman manisnya, yang
Sandi hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Tio yang membuatnya tersipu malu.
Bahkan dua pipinya memerah seperti Apel merah yang siap di petik.
Keduanya
tersenyum bahagia, dan gerimis itu seakan membawa sejumput kebahagiaan bagi
gadis manis itu dan penggemarnya yang membuat sang gadis seakan terbang
melayang dengan kata-katanya yang menyanjungnya selalu. Dan apakah kedua hati
mereka kan bertaut seiring dengan rasa kagum di antara keduanya? Biarlah waktu
kan melakukan tugasnya untuk mereka.
The End..
Comments
Post a Comment