Patah hati adalah sebuah ekspresi kegundahan hati yang sulit untuk diterka, serba salah. Patah hati itu seperti Anda mengganggap diri Anda sebagai yang paling pecundang diantara ribuan pecundang. Seperti cerita ini, ada seorang wanita dengan rasa yang sangat kuat namun begitu bodoh menanggapi segala hal dalam kehidupannya, mencintai seorang lelaki nun jauh disana, selama beberapa tahun banyak hal-hal yang mengejutkan dan biasa terjadi pada mereka, hingga suatu saat selama 6 bulan lelaki itu pergi dengan perasaan marah dan beribu kekesalan terhadap wanita itu. Wanita itu hanya bisa meratapi kepergiaan lelaki itu dengan tanpa dia bisa berkata,
"please,stay...". Menangis, hancur, pecundang, ah, begitulah. Keduanya seperti memendam perasaan yang tak sempat disampaikan.
Hari-harinya hanya diisi dengan kegundahan, kesedihan, dan pecundangnya dia meratapi lelaki itu. Menangis jika mengingat lelaki itu, sedih dan mengutuk dirinya akan kesalahan dan kebodohan dirinya. Bukankah seharusnya dia berpikir bahwa, "Saya mencintai dia, Saya ingini dia, Saya tidak mau dia pergi, bagaimana hidup Saya tanpanya? Mengapa Saya tidak mencegahnya dan berubah untuknya? Hidup Saya hanya satu kali, Saya tidak bisa membayangkan bagaimana hidup Saya jika tidak ada dia, jika tanpa ada sosoknya, ucapannya, yang mampu membuat degup jantung Saya seakan berhenti, kata-kata indah yang penuh dengan nilai dan makna hidup. Saya seharusnya bisa mencegahnya, ah bodohnya Saya. Seperti Saya ingin mengutuk sifat pecundang ini. Bagaimana ini? Bagaimana bisa membuat dia datang dan memintanya untuk tetap tinggal? Saya ingini dia. Meski Saya harus mempermalukan diri Saya, dan mengakui begitu munafiknya Saya. Toh jika memang hal itu akan membuatnya kembali, Saya tidak akan menolak untuk melakukannya."
Lelaki itu pun datang, membawa senyuman manis dengan kata-kata indah, wanita itu seperti mendapatkan kebahagiaan yang tiada tara. Bahagia sekali, seakan keindahan itu adalah keindahan sebenarnya.
"Saya tidak bisa bersama dengan wanita yang selalu menganggap segalanya sebagai rasa, Saya tidak bisa bersama dengan wanita yang menatap segalanya ini seperti khayalan, dan Saya tidak bisa bersama dengan wanita yang tidak bisa melihat dunia ini dengan nyata. Lihatlah kenyataan."
Lelaki itu pergi dengan ucapannya itu, ucapan yang begitu menohok hati wanita itu, dia terdiam, tak berkedip, ingin menangis tapi dia coba untuk kuat, dia tatap punggung lelaki itu yang bergerak mulai samar dan menjauh, dan dia menyadari lelaki itu akan pergi selamanya dari kehidupannya, air mata mengalir, air mata berat, seakan berat, entahlah...
Terlintas dalam pikirannya, "Bukankah cinta itu tanpa syarat, bukankah mencintai seseorang adalah anugerah sehingga kita dapat bersyukur dengan anugerah itu? Saya bukan wanita gila yang seperti anggapannya bahwa Saya tidak bisa menatap dunia ini dengan nyata, Saya normal, hanya cukup bagi kamu mengerti Saya, dan sebaliknya Saya akan mengerti kamu, dengan begitu itu makna mencintai yang sesungguhnya, mencintai tanpa syarat dan menerima apa adanya. Kamu begitu tidak adil memutuskan segalanya, seakan Saya tidak kamu beri pilihan, seakan Saya hanya perlu diam dan menerima. Apa ini? Inikah kehidupan yang nyata, yang kita hanya bisa menerima dan diam?"
Ada suatu makna terlintas, "Mengagumi seseorang itu bukan berarti meyakini bahwa dia adalah yang terbaik."
Comments
Post a Comment