Dia Datang Kejutkanku

Dia Datang Kejutkanku!             Sore itu awan nampak kelabu pertanda akan hujan, suara gemuruh dari langit mulai terdengar menggelegar. Angin meniupkan desahan-desahan kasar berliuk-liuk bagaikan penari mengiringi orang-orang yang mulai sibuk berteduh untuk menghindari air hujan yang siap mengguyur Jakarta di kala macetnya sore itu.             Seorang gadis bertubuh kurus tinggi dengan mengenakan blus bunga-bunga berlengan pendek longgarnya dengan rok satin panjangnya di padukan dengan sepatu ketsnya berlari-lari kecil menghindari gerimis yang mulai berubah menjadi air bah dari langit yang jatuh menimpa tubuh kurusnya. Dia berlari menuju Halte Bus yang tak jauh dari Kampus dia belajar. Hujan yang lebat itu pun tak mampu menghentikan kemacetan Jakarta yang setiap hari menjadi rutinitas yang paling menjengkelkan bagi warga Jakarta. Karena hampir setiap hari bergelut de...

Bijak Memilih Hal Positif (Pertemanan)

Akhir-akhir ini gue berpikir secara dalam mengenai arti pertemanan. Banyak orang bilang, "Berteman sama siapa aja ngga akan buat loe rugi." Atau "Kalau berteman itu harus milih-milih, yang baik-baik aja yang loe jadikan teman." Dan gue pun terpengaruh akan omongan-omongan itu, which is dengan apa yang sudah terjadi dalam kehidupan gue sebelumnya. 
Untuk pernyataan pertama, gue pernah mengalaminya, gue akan share pengalaman gue di dalam lingkup yang lebih spesifik, yaitu dunia perkuliahan. Waktu semester awal, ada seorang yang approached gue, kebetulan dia satu jurusan sama gue, dia ini masuk tipe orang yang bisa dibilang "gaul" di abad ini. In fact, gue bukanlah tipe orang yang "gaul", nonton film yang lagi "in", nongkrong, ketawa haha hihi untuk hal yang sepatutnya ngga gue jadikan lelucon, dan dalam perspective gue, semua hal-hal itu ada di dia. Short timenya, ya gue kenal dia, gue ngga tau sih apa yang dia pikirkan mengenai gue, which was she tried to give a bad impact to me, pointnya itu, kenapa gue bilang bad, ya dia sering melakukan hal-hal yang ngga penting, yang seharusnya gini ya, loe itu harus bisa mengukur seberapa produktifnya loe, minimal dalam satu hari, dan gue ngga menemukan pikiran yang senada antara gue dan dia. Pun setelah itu, dia memperkenalkan gue ke teman-temannya (yang sama seperti dia). Mereka-mereka ini datang dari lingkup yang sama, mungkin dengan pemikiran yang sama juga. Intinya gue males, dan akhrinya gue menjauh. Dari ini, gue dengar bahwa gue adalah objek pembicaraan mereka. Mungkin mereka aware. Tapi buat gue, buat apa diterusin? Gue males untuk merubah diri gue menjadi seperti mereka. Ngga ada faedahnya.
Untuk pernyataan kedua, emang cukup egois sih, karena gini, loe jadi seperti orang yang punya kuasa, yang loe itu harus selektif dalam pertemanan, in case dalam memilih teman. But short time, I just tried to prove it. Lagi, gue masih mau share dalam lingkup dunia perkuliahan gue. Ada seorang yang gue kenal, dia senior dengan jurusan yang beda. Tapi setelah banyak ngobrol dan sedikit tahu masing-masing, gue banyak menemukan hal-hal baik dari diri dia, which is itu memberikan dampak yang positif buat gue. Gue bukannya mau "mengagungkan" dia sebagai a common human same like us though. In fact, gue adalah tipe orang yang seperti ini, saat gue kenal dengan seseorang yang gue males untuk mengenal dia, untuk berikutnya gue akan menjauh, gue tetap ngga akan suka sama dia (entah, mungkin seumur hidup gue), gue ngga akan mau tahu tentang dia, that's all. Tapi untuk orang yang menurut gue "baik" untuk gue, gue akan approach ke dia, gue pingin tahu tentang dia, dan gue pun akan bersikap baik dengan dia, entah, mungkin ini egois, tapi gue pikir ini baik untuk gue, kenapa ngga? Kembali ke orang ini. Jadi gue pikir dia ini adalah orang yang wawasannya luas, pintar, dan seorang pendengar yang baik, gue teramat kagum sama dia (dalam lingkup pertemanan). Dia banyak kasih pelajaran-pelajaran berharga, yang bahkan, jujur, ngga gue temukan di orang-orang terdekat gue. Salah satu hal yang gue appreciate dari dia adalah, bagiamana dia membantu gue untuk memahami agama gue (segala hal tentang agama gue yang dia tahu). Bahkan hal yang namanya ngaji, gue dapat dari dia. Dia itu seperti a good creature from Allah.
Berlebihankah? Ah, ngga gue pikir. Gini ya, loe itu harus bisa memahami dan memilah bagaimana untuk mengagumi seseorang dari hal-hal baik yang diberi, bukan hal buruk ataupun impact buruk dari orang selain dia yang loe kenal (semoga loe paham dengan statement ini ya). 
Baru-baru ini, gue kenal dengan seseorang, lagi dalam lingkup dunia perkuliahan gue. Short time, gue merasa ignored dia, entahlah. Menurut gue sebenarnya dia baik, baik banget. Mungkin gue waktu itu memberikan penilaian yanng terlalu cepat mengenai dia. Dan sekarang dia menjauh dari gue. Dan dari kejadian itu, buat gue benar-benar berpikir bahwa, mengejudge seseorang terlalu cepat (bahkan hal negative) akan bikin loe menyesal, begitu bodohnya gue ignored orang sebaik dia (gue mengakuinya).
Bijak dalam berteman itu perlu, tapi ngga sepatutnya kan loe mengikuti ego loe, loe kan bukan Tuhan, dengan loe ngejudge orang yang begini dan begitu, ngga akan bikin loe menjadi manusia yang utuh sempurna, terlebih saat loe mengenal seseorang yang baik, tapi loe ignore dia, dengan pandangan-pandangan ngga masuk akal loe tentang dia. Terkadang ada benarnya, saat loe percaya bahwa, cover seseorang itu bukan jaminan untuk semua hal tentang dia. Intinya loe harus bijak dalam memilih untuk hidup loe.

Cheers.

Comments

Popular posts from this blog

Salah Rasa

College

Sikap Untuk Meningkatkan SDM Indonesia Agar Sejajar Dengan Negara Maju