Dia Datang Kejutkanku

Dia Datang Kejutkanku!             Sore itu awan nampak kelabu pertanda akan hujan, suara gemuruh dari langit mulai terdengar menggelegar. Angin meniupkan desahan-desahan kasar berliuk-liuk bagaikan penari mengiringi orang-orang yang mulai sibuk berteduh untuk menghindari air hujan yang siap mengguyur Jakarta di kala macetnya sore itu.             Seorang gadis bertubuh kurus tinggi dengan mengenakan blus bunga-bunga berlengan pendek longgarnya dengan rok satin panjangnya di padukan dengan sepatu ketsnya berlari-lari kecil menghindari gerimis yang mulai berubah menjadi air bah dari langit yang jatuh menimpa tubuh kurusnya. Dia berlari menuju Halte Bus yang tak jauh dari Kampus dia belajar. Hujan yang lebat itu pun tak mampu menghentikan kemacetan Jakarta yang setiap hari menjadi rutinitas yang paling menjengkelkan bagi warga Jakarta. Karena hampir setiap hari bergelut de...

Curhatan Untuk Mereka Yang Bertahan dan Memberontak...

     These thing have stucked on my mind for a long time. Banyak yang sadar dan tahu bahwa anak-anak Indonesia zaman sekarang itu layaknya generasi salah memilih panutan. Gue melihat banyak anak-anak zaman sekarang yang lebih mementingkan nongkrong dan tawuran ketimbang hadir di Kelas buat cari ilmu. Gue pernah dengar cerita dari adik, soal teman dia yang lebih memilih main ketimbang sekolah, teman dia yang lebih memilih untuk tawuran ketimbang sekolah, dan mereka yang lebih memilih untuk bolos ketimbang sekolah. Alasan klasik untuk melakukan hal itu adalah malas (everybody can admit it as well but please that is not the main reason for you). Gue pernah dengar cerita dari teman adik, ada di antara mereka yang meninggal karena ikut tawuran, mereka punya satu nyawa sih ya, bukan sembilan nyawa, loe harus bisa berpikir beribu kali dan mencoba untuk berpikir logis! So, itu bukan hal yang baik, loe semua tau, tau banget kan. Tapi gue mau berbicara mengenai moral-moral mereka ini yang dibelenggu oleh lingkungan yang ngga sehat dan ngga mendukung. Gue akan berbicara sedikit aja mengenai hal yang gue tahu mengenai anak-anak yang ngga sekolah di sekitar lingkungan kita yang merupakan hal klasik yang kita tahu alasannya. "Oh si ini ngga sekolah itu karena malas, sering ikut tawuran dan orang tuanya ngga peduli." atau "Oh si ini ngga sekolah karena orang tuanya ngga mampu, jangankan untuk sekolah, untuk makan tiap hari aja masih mikir banget." atau begini "Yaudah lah itu urusan mereka, toh itu hidup mereka, nanti juga ada yang bantu."
     Undang-undang kita memang menjamin setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan yang layak, Pemerintah menjamin itu, tapi masih banyak yang belum "terjamah" bantuan Pemerintah ini, belum merata. Gue akan berbicara mengenai hal dasarnya dulu dari hal yang gue tahu. Pertama, dari anak-anak daerah pelosok, yang loe bisa tahu dari TV, internet maupun social media, yang mereka ke Sekolah dengan menyebrangi jembatan yang udah ngga layak, yang mereka harus ke Sekolah dengan meyebrangi sungai yang ngga ada jembatannya, yang mereka ke Sekolah dengan seragam yang ngga layak, mereka yang kekurangan Pengajar, dan yang gedung sekolah mereka yang udah ngga layak sekali untuk belajar (masha Allah...). Gue miris, loe semua miris pasti yang melihatnya meskipun ngga secara langsung. Begini ya, ini bukan saja peran dari Pemerintah yang harus dijadikan patokan untuk membantu mereka, tapi kita harus turut andil, ya gue bisa berucap seperti ini, tapi gue belum bisa melakukan hal konkrit untuk menanggulanginya, gue tau, gue tau dengan pasti. Tapi gue berharap, dengan ini loe dan semuanya bisa aware tentang kemiskinan di luar lingkungan nyaman kita yang loe musti tahu. Begini, gue salut dan nothing words to say to represent my feeling toward this matter, just don't know why to say how amazing they are! Main point nya adalah mereka-mereka ini pantang menyerah untuk mendapatkan ilmu. Jujur, mereka-mereka ini adalah salah satu alasan gue untuk menjadi Guru suatu hari nanti, dengan harapan gue bisa membantu mereka, membantu mereka meraih cita-cita (but I don't know what happened next, but it was my big dream, truly). Mereka yang di daerah pelosok ini, mereka yang semangat menuntut ilmu ini, adalah anak-anak luar biasa yang tidak menyerah dengan kekurangan, gue tahu dan memahami untuk bisa membandingkannya dengan adik gue sendiri, yang tentu gue yakin ngga bisa seperti mereka, adik gue ini masih sekolah, tapi dia dikasih fasilitas motor dan uang mencukupi sama orang tua, ya gue tau gue juga ngga akan bisa seperti mereka. Kedua adalah anak-anak yang ngga sekolah karena beberapa alasan. Seperti yang gue bilang di atas dan seperti yang gue temui di sekitar lingkungan kita, ada salah satu anak, dia ini temannya adik, dia berasal dari keluarga yang kurang mampu, dia ini putus sekolah, pendidikannya hanya sampai SMP. Dia termasuk anak yang rajin sekolah, tapi keadaan ngga ngedukung dia, katanya lulus SMP juga dia sudah bersyukur, pun keadaannya dia sekarang ini, bukan salah orang tuanya, dia ini sekarang kerja, ya lulus SMP terus kerja. Katanya suatu hari dia bakal lanjutin sekolahnya kalau uangnya sudah ada dan cukup bahkan mungkin sampai Perguruan Tinggi, keren sih dia ini, gue ngga akan bisa kayak dia, really sure. Karena dari anak yang seumuran dia itu, gue bisa banyak belajar life lesson yang bikin "nampar" gue bahwa masih banyak yang kurang beruntung kalau dibandingin sama gue sekarang. Tapi ada juga cerita dari anak lain yang ngga sekolah karena alasan malas dan lebih suka tawuran. Cerita ini datang dari teman adik yang meninggal karena tawuran. Sebenarnya dia ini bukan dari keluarga kaya, tapi mungkin lingkungan yang mempengaruhi dan mendukung dia jadi pribadi "bringas" yang belum umurnya. Miris banget, banget, banget. Loe punya nyawa satu dan udah begitu aja. Orang tua yang selama ini membesarkan loe dengan peluh, kayak begitu aja hilang, dengan loe salah bergaul. Loe ngga bisa salahin orang tua gitu aja, tapi diri loe yang harus dijadiin cermin, gue ngga bisa mengindahkan ini sebagai hal sepele yang terjadi mungkin di masyarakat umum kita, yang mungkin menganggapnya sebagai hal biasa, atau hal begitu aja hilang dan ngga bisa dijadikan pembelajaran. Hal semacam ini gue berharap banget ngga akan terjadi di sepanjang waktu. Apa yang bisa dilakukan? Mungkin, seperti ini, loe ngga akan bisa dengan mudah mengubah seseorang yang sudah diracuni dengan hal buruk, kayak ngga segampang itu. Tapi gue yakin mereka-mereka ini bisa diubah menjadi pribadi yang baik dengan dukungan pembelajaran agama, agama adalah hal utama untuk seseorang menjadi pribadi yang baik, setelah itu gue yakin dengan segala impact-impact yang mereka terima, secara otomatis mereka akan menerapkannya ke dalam kehidupan mereka, tentu dengan orang tua yang selalu mendukung.
     Pergaulan anak-anak zaman sekarang itu susah untuk dibendung, banyak sekarang tren-tren yang bisa memberi dampak baik dan buruk sekalipun untuk mereka. Social media adalah salah satu tombak penyebaran tren itu, deras banget. Ngga bisa kita dengan mudah terhindar dari hal-hal buruk, pun dampak buruk, tapi gini, itu tergantung dari masing-masing, pribadi masing-masing yang bisa menjadikannya tameng. Belajarlah dari orang-orang tanpa memandang mereka itu siapa, karena sebenarnya mereka-mereka ini adalah pribadi yang luar biasa, makhluk yang Allah ciptakan untuk selalu bersyukur dan bersabar, yang ngga cengeng dengan keadaan yang serba kurang. Loe harus bisa banyak-banyak bersyukur, HARUS. Karena life lesson itu bisa datang dari manapun, pun bisa dari lingkungan sekitar loe yang terkadang loe ngga sadar mungkin.

Cheers.

Comments

Popular posts from this blog

Salah Rasa

College

Sikap Untuk Meningkatkan SDM Indonesia Agar Sejajar Dengan Negara Maju