Dia Datang Kejutkanku

Dia Datang Kejutkanku!             Sore itu awan nampak kelabu pertanda akan hujan, suara gemuruh dari langit mulai terdengar menggelegar. Angin meniupkan desahan-desahan kasar berliuk-liuk bagaikan penari mengiringi orang-orang yang mulai sibuk berteduh untuk menghindari air hujan yang siap mengguyur Jakarta di kala macetnya sore itu.             Seorang gadis bertubuh kurus tinggi dengan mengenakan blus bunga-bunga berlengan pendek longgarnya dengan rok satin panjangnya di padukan dengan sepatu ketsnya berlari-lari kecil menghindari gerimis yang mulai berubah menjadi air bah dari langit yang jatuh menimpa tubuh kurusnya. Dia berlari menuju Halte Bus yang tak jauh dari Kampus dia belajar. Hujan yang lebat itu pun tak mampu menghentikan kemacetan Jakarta yang setiap hari menjadi rutinitas yang paling menjengkelkan bagi warga Jakarta. Karena hampir setiap hari bergelut de...

Peradaban Manusia dan Hal-hal Didalamnya

Kemajuan teknologi pada zaman ini merupakan salah satu hal yang tidak dapat ditampik oleh manusia, tua maupun muda. Manusia di zaman sekarang ini, seolah digiring ke dalam "praktisnya" kehidupan dan mudahnya memperoleh sesuatu yang diingini. Bagus tentu, karena semakin maju pemikiran dan peradaban manusia, maka semakin maju pula keinginan untuk mencipta dan berinovasi yang baru, terus dan terus. Lihat saja gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di kota-kota besar, jembatan yang terpampang luas di atas laut, kereta bawah tanah yang bisa menghubungkan satu provinsi ke provinsi lain hanya dengan hitungan jam, terciptanya gadget canggih yang menjadi penambah dari trendinya kehidupan manusia zaman sekarang ini, dan segala macam perabotan elektronik yang dapat mempermudah pekerjaan manusia. Nah, hal-hal seperti itu tentu menjadi keuntungan sendiri yang diharapkan manusia dari sesuatu yang diciptakan manusia. Pasaran untuk gadget dan perabotan elektronik ini besar dan menjamur. Produsen gadget dengan sejuta inovasi menciptakan kecanggihan untuk memanjakan manusia dengan fitur-fitur canggihnya, apakah mereka berlomba? Ya tentu. Tentu mereka berinovasi dan berlomba untuk mendapatkan hati dari orang-orang ini yang selanjutnya disebut konsumen. Produsen tanpa konsumen seakan mati, gulung tikar. Nah, tentu beda bukan dari tahun-tahun sebelumnya dari peradaban manusia, jadi setiap peradaban manusia akan menambah pula daya pikir manusia untuk semakin maju dan maju, nah menakjubkan bukan otak manusia itu! 
Jadi banyak yang berlomba untuk menawarkan kepada orang-orang inovasi teknologi mereka yang baru, baru dan terus baru. Seakan kita tidak akan pernah cukup hanya dengan satu inovasi, karena setiap manusia lain terus mencipta inovasi, hingga tidak akan tertandingi dengan yang lain, mereka ingin menjadi nomor satu di kelasnya, mereka ingin menjadi yang utama yang dicari oleh konsumen, itulah fakta pasar. Jadi setiap manusia akan "menghasilkan" uang dari manusia lainnya dengan inovasi yang mereka cipta, dan arusnya seperti itu. Menarik bukan? Jadi seperti ini, manusia tidak akan hidup sendiri "tanpa bantuan" manusia lainnya, itulah teori sosialnya, dan teori tersebut diterapkan dalam dunia pasar yang seakan sibuk dan tak pernah mati. Jadi setiap kemajuan pemikiran akan membawa keuntungan pula bagi satu manusia ke manusia lainnya, itulah hal yang dapat kita telaah.
Nah dari dampak positif itu, tentu ada pula dampak negatif dari kemajuan peradaban manusia. Faktanya adalah banyak generasi milenial yang sekan salah tujuan dan terjebak dalam "hingar-bingarnya" kemajuan teknologi. Jadi bisa dikatakan bahwa, semakin maju peradaban manusia dengan teknologi canggihnnya, semakin longgar pula moral dalam diri manusia yang seharusnya bersifat hakiki. Anda pasti pernah mendengar istilah "kids zaman now" yang menjadi simbol akan "majunya" anak-anak zaman sekarang ini. Jadi begini, mungkin mereka-mereka ini "terlampau canggih" di zamannya. Jadi kita tidak bisa menyalahkan mereka tentu, tapi mungkin anak-anak seperti mereka ini belum dididik untuk menggunakan mindsetnya dengan benar, tapi kemajuan-kemajuan tersebut terlampau masuk dan sudah mempengaruhi di setiap segi kehidupan mereka. Tentu anak-anak yang dapat memanfaatkan teknologi ini dengan benar, akan mendapatkan faedahnya. Tapi untuk anak-anak yang seakan "keblinger" memanfaatkan kemajuan peradaban ini, tentu akan masuk ke dalam pusaran pergaulan negatif. Anak umur belasan sudah memiliki pacar, itu seakan menjadi hal biasa dalam kehidupan sosial kita, coba pikirkan, memiliki sebuah hubungan ikatan dengan lawan jenis merupakan hal yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang dewasa, bayangkan saja jika mereka-mereka ini berpacaran dan melakukan hal-hal senonoh. Dengan membayangkannya saja sudah miris! Kata-kata kotor seperti umpatan binatang, kata-kata asing seperti "fuck", "shit", "motherfucker", seperti menjadi bahasa gaul bagi anak-anak ini. Dari mana mereka memperoleh semua itu? Tentu sumber utamanya adalah internet. Dan bagaimana mungkin mereka dapat mengakses internet? Ya pasti bisa, internet itu merupakan hal utama bagi setiap manusia di zaman sekarang ini, bisa dibilang "manusia tidak bisa hidup tanpa internet", dan Saya yakin tidak ada manusia satu pun yang menampik akan hal itu. Agak bertolak belakang dalam pikiran, bukan? Anak-anak "kids zaman now" ini dari mereka-mereka yang jatuh dalam pusaran negatif, tentu tidak akan bisa dibendung. Kemudahan akses bagi mereka untuk menjelajah intenet semakin tak terbendung dan akan menambah pula hal-hal positif, baiklah, tapi bagaimana jika hal-hal negatif,  hal yang seharusnya mereka jaga sampai mereka dewasa dan jatuh ke dalam pusaran itu? Sedih. Seperti konten seks yang mudah didapatkan dengan akses internet, seperti lagu-lagu dengan lirik kasar, isu sara dan hal-hal lain yang berbau konten negatif. Anda sadar benar bukan hal-hal seperti itu tidak seharusya diakses bagi manusia di bawah umur?!
Saya ingat sebuah cerita saat, seorang anak dari keluarga tidak mampu, meronta dan meminta dibelikan sebuah smartphone dengan sistem android. Ya mungkin bukan hal besar jika anak ini berasal dari keluarga yang mampu, tapi tentu akan menjadi hal besar bahkan mungkin masalah besar jika anak ini bukan berasal dari keluarga mampu dan memaksa orang tuanya untuk membelikan gadget canggih tersebut. Baik, faktor ekonomi akan menjadi dominan dalam hal ini. Tidak ingin Saya mengejudge mereka untuk gagal dalam mendidik anaknya, namun terkadang lingkungan yang cepat berubah, membawa mereka ke dalam pusaran itu. Tentu akan menjadi hal biasa jika seorang anak meminta sesuatu dari orang tuanya, tapi jika meronta dan meminta dari batas kemampuan orang tua, tentu moral dari anak itu sedikit terkikis dari lapisannya. Ini hanya hal kecil yang Saya ketahui, mungkin ada beberapa cerita yang lebih miris dari ini. 
Sebenarnya mindset anak-anak seperti ini belum diarahkan dengan benar, seperti mungkin mereka butuh bimbingan dan arahan dari seorang yang lebih dewasa untuk mengembangkan apa yang mereka dapat, ke hal positif.
Sepertinya dampak hal negatif tidak akan berhenti dari hal itu saja. Sekarang ini, orang seakan "berperang" dengan sesama pengguna sosial media lainnya. Ya berperang dalam hal ini bukan dengan senjata tajam atau benda tajam lainnya, tapi dengan umpatan dan kata-kata. Orang-orang ini dengan mudahnya "tersulut" dengan kata-kata ataupun kalimat yang tidak mereka sukai, atau bertentangan dengan pemikiran mereka, seakan pemikiran dari setiap orang ini, adalah yang paling benar, jadi memperdebatkan yang benar, dan keinginan saling bersatu pun terkikis lambat laun. Dengan mudahnya menghujat padahal mereka tidak mengenal betul satu sama lain. Ingat ya, kata-kata yang Anda ketik di sosial media itu mewakili gambaran dan pemikiran Anda, jadi sebaiknya berhati-hati dengan ucapan dan ketikan. Setiap kata dan kalimat yang dirangkai di sosial media merupakan cerminan dari orang tersebut. Jadi jika bersosial media, anggaplah sebagai "dunia kedua" Anda yang di mana Anda juga harus bertindak sewajarnya, sewajar saat di dunia nyata, bertindaklah sewajarnya, dengan sopan, dan bijak. 
Semua hal pasti ada sisi positif dan negatif, tergantung dari diri kita sendiri bagaimana menerapkan mindset yang benar untuk menanggapinya.
Cheers...

Comments

Popular posts from this blog

Salah Rasa

College

Sikap Untuk Meningkatkan SDM Indonesia Agar Sejajar Dengan Negara Maju