Dia Datang Kejutkanku

Dia Datang Kejutkanku!             Sore itu awan nampak kelabu pertanda akan hujan, suara gemuruh dari langit mulai terdengar menggelegar. Angin meniupkan desahan-desahan kasar berliuk-liuk bagaikan penari mengiringi orang-orang yang mulai sibuk berteduh untuk menghindari air hujan yang siap mengguyur Jakarta di kala macetnya sore itu.             Seorang gadis bertubuh kurus tinggi dengan mengenakan blus bunga-bunga berlengan pendek longgarnya dengan rok satin panjangnya di padukan dengan sepatu ketsnya berlari-lari kecil menghindari gerimis yang mulai berubah menjadi air bah dari langit yang jatuh menimpa tubuh kurusnya. Dia berlari menuju Halte Bus yang tak jauh dari Kampus dia belajar. Hujan yang lebat itu pun tak mampu menghentikan kemacetan Jakarta yang setiap hari menjadi rutinitas yang paling menjengkelkan bagi warga Jakarta. Karena hampir setiap hari bergelut de...

SHE





Malam ini pukul 22.00, seperti banyak hal yang ingin dicerna oleh otaknya. Suasana hati terkadang menjadi salah satu masalah yang membuat segalanya bertolak belakang dengan pikiran. Terkadang hal-hal yang berat, sulit untuk dicernanya menjadi realita yang harus dia terima, dan terkadang meskipun berhasil untuk dicerna dan menunggu untuk menerima realitanya, dia enggan berdiri dan berani menghadapinya. Menjadi seorang dewasa, terkadang merupakan salah satu perkara yang sulit diterima akal sehat, saat segalanya menjadi seperti pembantaian dan gejolak batin yang seakan hanya ingin marah dan memberontak. Sebenarnya, dia tak menuntut banyak, dia bukanlah orang yang selalu mengharapkan balasan manis dari orang lain, pun bukanlah orang yang pandai untuk menjaga hatinya agar tetap stabil. Seperti ada beberapa lakon yang harus dia perankan dalam pemahaman hidup di setiap pergantian umur. Benar dikata bahwa, umur hanyalah angka, bukan merupakan patokan bagi seseorang untuk menilai lainnya seberapa dewasa dan matangnya dia, umur bukan jaminan, bukan? Sepatutnya dia jelas memahami akan hal itu, saat orang-orang di sekelilingnya memprotes akan sikapnya. Dia terlalu naïf untuk mencerna segalanya, dia juga amat terlalu peka terhadap hal di sekelilingnya. Dan dia juga bertanya, mengapa orang-orang ini begitu gusar dengan sikapnya yang menurut mereka bertolak belakang, pun dia juga tidak pernah menyusahkan atau membuat rusuh mereka , tapi mereka berani saja mengkritik sikapnya?
Lalu dia berkata, “Saya sudah diam. Lalu mengapa Anda berperilaku seakan Anda adalah wakil Tuhan yang bisa menghardik Saya dengan segala macam ucapan Anda yang seakan baik bagi semua?”
Setelahnya dia berlari, menjauh dari mereka, dan berhenti di tengah senyapnya tempat yang melingkupinya. “Menjadi seperti ini, orang seperti ini, bukanlah sebuah kelainan, bukan? Ini adalah pilihan Saya. Saya pikir ini bukanlah tentang keegoisan untuk tidak mendengar nasihat, tapi inilah pilihan yang Saya anggap benar, dan bukan sebagai tameng untuk Saya berpura-pura baik di depan kalian, dan mencemooh di belakang kalian. Saya tidak ingin menjadi pengecut, tidak ingin menjadi kaku, tidak ingin menjadi seseorang yang sulit menerima hal baru. Saya hanya butuh tempat dan waktu sendiri untuk diri Saya, dan selebihnya Saya akan berbaur dengan baik layaknya kalian. Saya hanya butuh tempat dan waktu sendiri. Jadi jangan menghardik Saya seperti itu.”
Dia menunduk diam, matanya terpejam, terpejam rapat. Bayangan akan kematian sesekali berkelabat di saat suasana batinnya begitu kacau. Dia berpikir bahwa, kematian adalah sesuatu yang pasti terjadi. Memang begitu umum rasanya, saat seseorang memikirkan akan kematian, yang sebenarnya selalu menghantui, namun sulit untuk diakui. Bagaimana dia akan dikenang setelah dia tidak ada lagi di muka bumi? Dan apa hal darinya yang begitu melekat di pikiran setiap orang yang mengenalnya? Jawaban itu pasti ada  suatu hari. Dia selalu mengatakan bahwa, "Saya hanya ingin menjadi orang pertama yang dipanggil Tuhan sebelum orang-orang yang Saya cintai juga di panggil-Nya. Sederhana, Saya hanya tidak ingin sedih tak berkesudahan karena mereka pergi dan tidak kembali." Hari  itu, adalah hari yang tidak bisa kita pilih namun sudah ditakdirkan…

Comments

Popular posts from this blog

Salah Rasa

College

Sikap Untuk Meningkatkan SDM Indonesia Agar Sejajar Dengan Negara Maju