
Malam ini pukul 22.00,
seperti banyak hal yang ingin dicerna oleh otaknya. Suasana hati terkadang
menjadi salah satu masalah yang membuat segalanya bertolak belakang dengan
pikiran. Terkadang hal-hal yang berat, sulit untuk dicernanya menjadi realita
yang harus dia terima, dan terkadang meskipun berhasil untuk dicerna dan
menunggu untuk menerima realitanya, dia enggan berdiri dan berani
menghadapinya. Menjadi seorang dewasa, terkadang merupakan salah satu perkara
yang sulit diterima akal sehat, saat segalanya menjadi seperti pembantaian dan
gejolak batin yang seakan hanya ingin marah dan memberontak. Sebenarnya, dia
tak menuntut banyak, dia bukanlah orang yang selalu mengharapkan balasan manis
dari orang lain, pun bukanlah orang yang pandai untuk menjaga hatinya agar
tetap stabil. Seperti ada beberapa lakon yang harus dia perankan dalam
pemahaman hidup di setiap pergantian umur. Benar dikata bahwa, umur hanyalah
angka, bukan merupakan patokan bagi seseorang untuk menilai lainnya seberapa
dewasa dan matangnya dia, umur bukan jaminan, bukan? Sepatutnya dia jelas
memahami akan hal itu, saat orang-orang di sekelilingnya memprotes akan
sikapnya. Dia terlalu naïf untuk mencerna segalanya, dia juga amat terlalu peka
terhadap hal di sekelilingnya. Dan dia juga bertanya, mengapa orang-orang ini
begitu gusar dengan sikapnya yang menurut mereka bertolak belakang, pun dia
juga tidak pernah menyusahkan atau membuat rusuh mereka , tapi mereka berani
saja mengkritik sikapnya?
Lalu dia berkata, “Saya sudah diam. Lalu mengapa Anda
berperilaku seakan Anda adalah wakil Tuhan yang bisa menghardik Saya dengan
segala macam ucapan Anda yang seakan baik bagi semua?”
Setelahnya dia berlari,
menjauh dari mereka, dan berhenti di tengah senyapnya tempat yang melingkupinya. “Menjadi seperti ini, orang seperti ini,
bukanlah sebuah kelainan, bukan? Ini adalah pilihan Saya. Saya pikir ini
bukanlah tentang keegoisan untuk tidak mendengar nasihat, tapi inilah pilihan
yang Saya anggap benar, dan bukan sebagai tameng untuk Saya berpura-pura baik
di depan kalian, dan mencemooh di belakang kalian. Saya tidak ingin menjadi
pengecut, tidak ingin menjadi kaku, tidak ingin menjadi seseorang yang sulit
menerima hal baru. Saya hanya butuh tempat dan waktu sendiri untuk diri Saya,
dan selebihnya Saya akan berbaur dengan baik layaknya kalian. Saya hanya butuh tempat
dan waktu sendiri. Jadi jangan menghardik Saya seperti itu.”
Dia menunduk diam,
matanya terpejam, terpejam rapat. Bayangan akan kematian sesekali berkelabat di
saat suasana batinnya begitu kacau. Dia berpikir bahwa, kematian adalah sesuatu
yang pasti terjadi. Memang begitu umum rasanya, saat seseorang memikirkan akan
kematian, yang sebenarnya selalu menghantui, namun sulit untuk diakui. Bagaimana
dia akan dikenang setelah dia tidak ada lagi di muka bumi? Dan apa hal darinya
yang begitu melekat di pikiran setiap orang yang mengenalnya? Jawaban itu pasti
ada suatu hari. Dia selalu mengatakan bahwa, "Saya hanya ingin menjadi orang pertama yang dipanggil Tuhan sebelum orang-orang yang Saya cintai juga di panggil-Nya. Sederhana, Saya hanya tidak ingin sedih tak berkesudahan karena mereka pergi dan tidak kembali." Hari itu, adalah hari yang tidak bisa
kita pilih namun sudah ditakdirkan…
Comments
Post a Comment